Kembali ke Blog

Test Blog Ketiga

Faqih Nur Fahmi
Faqih Nur Fahmi
2 menit baca
Ushul Fiqih
Test Blog Ketiga

Ini adalah Heading dua

Di satu perusahaan, saya berkesempatan menggunakan HRIS yang dirancang dengan sangat baik. Bukan sekadar aplikasi penyimpan data karyawan — tapi sistem yang benar-benar memangkas cara kerja secara signifikan.

Sebelumnya, keseharian tim HR saya dipenuhi proses manual yang melelahkan. Data absensi dikumpulkan satu per satu dari mesin fingerprint lalu diinput ke Excel. Perhitungan lembur dikerjakan ulang setiap bulan dengan rumus yang berbeda tergantung shift dan hari. Laporan BPJS dibuat tangan lalu diupload satu per satu. Rekrutmen dikelola lewat email dan spreadsheet yang terus bertumpuk.

Semua itu memakan waktu. Dan semua itu rawan human error.

Setelah HRIS diterapkan dengan benar, lebih dari 50% proses administrasi itu hilang — bukan dipindahkan ke format digital, tapi benar-benar hilang karena sistem sudah menanganinya dari hulu ke hilir. Waktu yang biasa tersita untuk administrasi mendadak tersedia untuk hal yang lebih bermakna: program employee engagement, perencanaan pengembangan tim, analisis data workforce.

Di satu perusahaan, saya berkesempatan menggunakan HRIS yang dirancang dengan sangat baik. Bukan sekadar aplikasi penyimpan data karyawan — tapi sistem yang benar-benar memangkas cara kerja secara signifikan.

Sebelumnya, keseharian tim HR saya dipenuhi proses manual yang melelahkan. Data absensi dikumpulkan satu per satu dari mesin fingerprint lalu diinput ke Excel. Perhitungan lembur dikerjakan ulang setiap bulan dengan rumus yang berbeda tergantung shift dan hari. Laporan BPJS dibuat tangan lalu diupload satu per satu. Rekrutmen dikelola lewat email dan spreadsheet yang terus bertumpuk.

Semua itu memakan waktu. Dan semua itu rawan human error.

Komentar (0)

Silahkan Login untuk menambahkan komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!